PUASA SEBAGAI IBADAH RAHASIA

Rukun Islam keempat tentang Puasa Ramadlon memiliki dimensi ganda, di samping dimensi keTuhanan (hablu minallah), juga dimensi Kemanusiaan (hablu minannas). Tujuan akhir puasa berupa predikat “Taqwa” sebagaiamana diwahyukan Allah Swt. Surat Al Baqarah ayat 183 memberikan penjelasan secara tegas bahwa manusia perlu melatih dirinya secara terus menerus dengan penuh kesadaran dan keikhlasan melalui ibadah puasa sebagai upaya menempatkan hamba yang bertaqwa untuk meraih sosok manusia seutuhnya ( insan kamil ),di samping menjadi muslim yang sempurna (muslim kaffah).
Melalui pembiasaan perut yang lapar dan dahaga serta menahan semua bentuk-bentuk kemaksiatan, puasa dapat melatih seseorang berpikiran tajam, berilmu yang luas, bertindak dewasa, bersikap bijak, berhati lapang, bernyali sosial dan berjiwa besar. Sikap tersebut akan dapat dicapai, lantaran puasa mengkondisikan seseorang mampu mengendaliklan hawa nafsu. Maka sudah menjadi tesis bahwa salah satu metode yang cukup terbukti untuk pengedalian hawa nafsu adalah lewat puasa. Lantaran hawa nafsu selalu bersinergi dengan berbagai kesenangan manusia dan gemerlapnya dunia. Pengekangan hawa nafsu merupakan langkah yang selalu banyak tantangannya, sehingga proses tersebut diposisikan sebagai jihad akbar. Nabi Muhammad Saw.bersabda : Kita kembali dari jihad kecil kepada jihad yang besar. Sahabt bertanya:”Jihad apakah yang lebih besar, ya Rasulullah?” Beliau bersabda : “(Jihad yang besar) ialah memerangi hawa nafsu” (H.R.. Bukhari).
Dalam konteks ini, Puasa tentu akan membentuk pribadi manusia pada proses kesalihan individual. Akumulasi dari kesalihan individual akan menghasilkan kesalihan keluarga (sakinah mawaddah warahmah) dan berimplikasi pada terbangunnnya kesalihan komunal (Salihah ijtimaiyyah). Sifat saling pengertian dan saling menghargai antara sesama masyarakat dalam sebuah kelompok sosial akan mempengaruhi proses komunikasi, transformasi dan aktualisasi social dengan mengedepankan semangat kebersamaan yang ditandai sikap saling memberi dan menerima penuh kesadaran, keikhlasan tanpa rekayasa pencitraan. Dalam situasi semcam ini manusia sebagai bagian dari kelompok sosial akan dapat menyadari dan memahami kelemahan dan kelebihannya.

Variabel Kerahasiaan
Pembiasaan ibadah puasa ini memiliki perbedaan dengan ibadah-ibadah lainnya. Salah satu yang membedakan karakteristiknya adalah tingkat kerahasiannya. Oleh karena ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat rahasia. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah Swt berfirman: “Puasa itu rahasia antara Aku dan hamba-Ku dan Aku sendiri yang akan mengganjar pahalanya.” Dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Rahasia adalah sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain. Rahasia juga dapat diartikan sesuatu yang belum dapat atau sukar diketahui dan dipahami orang, atau sesuatu yang tersembunyi. Dalam kerahasiaan tersebut ada pola dan cara yang setepat-tepatnya (biasanya tersembunyi atau sukar diketahui orang lain). Di dalam kerahasiaan juga terkandung sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang (shaimin) agar tidak diceritakan kepada orang lain yang tidak berwenang mengetahuinya, sehingga ada kesan secara diam (sembunyi-sembunyi) dan tidak secara terang-terangan.
Sudah menjadi kebiasaan dan keteladanan orang-orang saleh pula pada zaman dahulu, mereka seringkali merahasiakan amal puasanya. Mereka seringkali membasahi bibir mereka yang kering lantaran berpuasa, sehingga tidak ada orang yang mengira bahwa mereka sedang berpuasa. Oleh karena itu, puasa itu rahasia antara kita dengan Allah, maka hendaknya dirahasiakan dan jangan sekali-sekali diperlihatkan untuk tujuan riya’ sekedar berharap pujian orang lain atau terpaksa melakukannya hanya karena sungkan atau malu karena manusia.
Mengacu pada uraian di atas, yang mengetahui secara pasti bahwa seseorang itu sedang berpuasa hanyalah 3 (tiga) pihak, yaitu Allah SWT, malaikat pencatat amal perbuatan mansuia serta orang yang sedang menjalankannya itu sendiri. Sangat berbeda dengan rukun Islam lainnya, seperti Syahadat, Sholat, Zakat, dan Haji yang dapat diamati oleh orang lain secara kasat mata. Syahadatnya seseorang mudah terindentifikasi oleh negara dan public, karena terkait dengan identitas kependudukan yang diterbitkan oleh negara, melalui kolom agama yang tertera pada kartu tanda penduduk. Ibadah sholat sangat mudah dilihat orang lain semenjak kegiatan berwudlu, gerakan-gerakan sholat hingga bacaan sholat. Meskpiun diketahui secara terbatas, membayarkan zakat tentu dapat teridentifikasi oleh pihak lain, karena terkait dengan amil dan atau mustahiq, yang terlibat dalam transaksi serah terima zakat (aqad) Apalagi terkait dengan melaksanakan ibadah haji. Proses Ibadah ini, sejak pra, proses dan pasca haji justru diketahui oleh pihak penyelenggara, yakni negara, dalam hal ini kementerian terkait. Dalam perspektif publik, calon haji mudah diketahui oleh masyarakat yang sangat kental dengan tradisi pelepasan keberangkatan dan penyambutan kepulangan ibadah haji.
Terjaganya kerahasiaan ibadah puasa tentu dipengaruhi oleh tingkat keistiqomahan seseorang dalam menunaikannya sejak membaca niat puasa. Meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya, seseorang yang teguh berpuasa ketika masuk rumahnya sendiri, meskipun suasananya sangat sepi dan melihat ada hidangan makanan maupun minuman, kalau belum waktunya berbuka pasti tidak akan mengkonsumsinya. Padahal makanan dan minuman tersebut adalah halal dan miliknya sendiri. Makanan dan minuman sendiri saja tidak akan dimakan, apalagi jika barang tersebut milik orang lain.

Totalitas Kerahasiaan
Apakah kerahasiaan puasa seseorang di depan public tidak ada godaan? Tentu saja ada dan banyak variannya. Terbukti, masih banyaknya warung dan rumah makan yang buka di setiap perkampungan, pemukiman dan kawasan keramaian. Pemandangan tersebut kadang juga berderet di pinggir-pinggir jalan raya dan tempat-tempat perbelanjaan yang ada disekitar kita. Memang, meskipun bulan Ramadlan, faktanya tidak semua muslim memiliki kesadaran untuk berpuasa, dan itu mengindikasikan bahwa mereka belum mampu mengendalikan hawa nafsunya. Apabila seorang muslim yang sudah berniat dan menjalani puasa sehari penuh hingga sebulan tanpa tergoda dengan tersedianya warung-warung tersebut berarti yang bersangkutan telah teruji di balik kerahasian ibadahnya. Sebaliknya jika ada seorang muslim yang tergoda mengkonsumsi makanan atau minuman, di rumah makan atau warung, tentu rahasinya sudah terbongkar dihadapan 4 (empat) pihak, dirinya sendiri, malaikat pencatat amal, Allah Swt dan dihadapan sesama manusia, penjual makanan maupun sesama konsumen yang menikmati makanan di warung tersebut. Meskipun terbukanya rahasia tersebut sebatas diketahui pihak-pihak yang melihatnya. Selain godaan makan dan minum, godaan puasa juga sangat beragama, sebanyak hiasan yang menjadi kesenangan manusia atas materi dan syahwat yang bersifat duniawi. Essensi puasa adalah berpuasanya seluruh tubuh, puasanya mata, puasanya kaki, puasanya tangan, puasanya telinga, bahkan hati pun ikut berpuasa. Disinilah sulitnya ujian tentang kemampuan mempertahankan puasa secara lahiur batin, sangat dipertaruhkan di tengah-tengah kerahasiaannya.
Di balik kerahasiaan ibadah puasa, memberikan hikmah dan pelajaran pada kita semua untuk senantiasa melatih kerahasiaan semua ibdah dan kebaikan yang kita laksanakan sehingga tidak mudah memamerkan atau riya terhadap kebaikan diri, yang menjadi salah satu penyakit ruhani manusia. Secara umum, setiap orang akan memiliki kecenderungan ingin menampakkan hal-hal baik di hadapan sesamanya, sekaligus ingin membuktikan bahwa yang bersangkutan adalah orang baik yang agamis dan punya kepedulian sesama. Totalitas kerahasiaan puasa sejatinya akan dapat menjadi inspirasi sebagai sumber keikhlasan dalam menjalankan ibadah mahdhah, ibadah ghairu mahdhah maupun amal shalih lainnya, seperti sifat kedermawanan, suka menolong dan bentukl-bentuk kepeduliaan terhadap sesama manusia. Merujuk firman Allah, sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surat Albaqarah ayat 271: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.

Muhlisin, Ketua PC LP Maarif NU Kabupaten Pekalongan dan Dosen IAIN Pekalongan
Artikel ini dimuat pada www.suaramerdeka.com. Pada tanggal 29 April 2020