MENJADIKAN RUMAH SEBAGAI TEMPAT IBADAH

Terkait pandemi virus Covid-19 yang masih berlangsung dan belum bisa dideteksi kapan berakhirnya, Kementerian Agama Republik Indonesia telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Agama Nomor 6/2020 tanggal 6 April 2020, tentang Panduan Ibadah Ramadlan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 di tengah Pandemi wabah Covid 19. Surat Edaran tersebut berisikan imbauan yang terdiri dari 15 poin. Hal-hal yang diatur dan dihimbaukan kepada masyarakat Islam meliputi ibadah puasa, buka puasa, sahur, sholat tarawih, tadarus Al-Quran, Nuzulul Quran, I’tikaf, Pengumpulan Zakat Infaq dan Shadaqah, sholat Idul Fitri dan Halal Bihalal serta himbauan agar masyarakat senantiasa memperhatikan instruksi Pemerintah Pusat dan Daerah setempat, terkait pencegahan dan penanganan Covid-19. Dari kelima belas poin tersebut, terdapat beberapa himbauan yang langsung mengarahkan agar peribadatannya dilaksankan di rumah.
Pertama, Himbauan tentang sahur dan buka puasa , dimana Kementerian agama menghimbau agar sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu atau keluarga inti, tidak perlu sahur on the road atau ifthar jama’ (buka puasa bersama). Bahkan secara ekplisit Menteri Agama agar masyarakat menghindari Buka puasa bersama baik dilaksanakan di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala. Tradisi yang selama ini sudah melembaga di Indonesia agara sementara ini ditiadakan. Kedua, Salat Tarawih. Kementerian agama menghimbau agar shalat tarawih dilakukan secara individual atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah. Juga ditegaskan agar tidak melakukan kegiatan Salat Tarawih keliling (tarling), yang selama ini telah menjadi syiar di setiap Ramadlan di Indonesia. Ketiga, Tadarus Al-Qur’an. Kementerian Agama juga menghimbau agar Tilawah atau tadarus Al-Qur’an dilakukan di rumah masing-masing berdasarkan perintah Rasulullah SAW untuk menyinari rumah dengan tilawah Al-Qur’an. Berkaitan dengan Peringatan Nuzulul Qur’an, Kementerian Agama juga menghimbau agar peringatan yang diselenggarakan dalam bentuk tabligh dengan menghadirkan penceramah dan massa dalam jumlah besar, baik di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala ditiadakan. Keempat, iktikaf di 10 (sepuluh) malam terakhir bulan Ramadan. I’tikaf diartikan sebagai kegiatan diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu, sambil menjauhkan pikiran dari keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Selain itu, terdapat ibadah penting yang hukumnya fardlu ain dan dilaksanakan secara rutin lima kali sehari semalam yang tidak termasuk dalam surat edaran Kementerian Agama, yaitu sholat maktubah. Meskipun rukun Islam kedua ini tidak termasuk dalam panduan , tentu saja pelaksanaan jamaah sholat lima waktu selama pandemic covid 19 juga dianjurkan di rumah.

Himbauan Pemerintah
Tentu pelaksanaan Ramadan tahun ini bisa dipastikan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak ibadah yang biasanya dilaksanakan di masjid, seperti salat tarawih dan tilawah Al-Quran kini sebagian wilayah tertentu terpaksa ditiadakan dan diimbau untuk melaksanakannya dirumah masing-masing bersama keluarga inti. Sebenarnya publik berharap agar umat Islam dapat melaksanakan ibadah dan amaliyah Ramadan yang lain juga seperti biasa di masjid, tapi karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan, sehingga imbauan pemerintah lebih mengutamakan di dalam rumah masing-masing. Memang, dalam perkembangannya, terdapat dinamika fiqih, sebagaimana yang telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia, nomor 14 tahun 2020 tentang Penyelenggaran ibadah dalam situasi terjadi wabah covid-19. Dalam ketetapan kedua, item 3, bagian a disebutkan bahwa Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya. Yang jelas, Imbauan kementerian agama untuk beribadah di rumah bukan berarti mengabaikan syiar masjid. Tidak ada upaya melarang orang masuk masjid, Namun lebih kepada upaya untuk menghindari mudarat yang lebih besar.Kementerian Agama lebih menajalankan fungsi pemerintah yang bersifat himbauan, kalau masyarakat mengkutinya tentu akan menjadi lebih baik dan apabila tidak mengikutinya tentu konsekuensinya kembali pribadi masing-masing.
Kata kunci yang harus digarisbawahi adalah himbauan untuk menjalankan peribadatan di dalam rumah. Ini menngingatkan pada kita semua tentang hakekat, manfaat dan fungsi rumah dalam kehidupan social. Dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman disebutkan bahwa rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya (bab I, Pasal 1). Sedangkan Menurut Komisi WHO mengenai Kesehatan dan lingkungan (2001), rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmanidan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu. A.Turner (dalam Jenie, 2001 : 45), menyebutkan tiga fungsi utama yang terkandung dalam sebuah rumah tempat bermukim, yaitu : 1. Rumah sebagai penunjang identitas keluarga (identity) yang diwujudkan pada kualitas hunian atau perlindungan yang diberikan oleh rumah. Kebutuhan akan tempat tinggal dimaksudkan agar penghuni dapat memiliki tempat berteduh guna melindungi diri dari iklim setempat. 2. Rumah sebagai penunjang kesempatan (opportunity) keluarga untuk berkembang dalam kehidupan sosial budaya dan ekonomi atau fungsi pengemban keluarga. Kebutuhan berupa akses ini diterjemahkan dalam pemenuhan kebutuhan sosial dan kemudahan ke tempat kerja guna mendapatkan sumber penghasilan. 3. Rumah sebagai penunjang rasa aman (security) dalam arti terjaminnya keadaan keluarga di masa depan setelah mendapatkan rumah. Jaminan keamanan atas lingkungan perumahan yang ditempati serta jaminan keamanan berupa kepemilikan rumah dan lahan (the form of tenure). Oleh karanya wajar apabila selama ini, rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepaskan lelah, tempat bergaul, membina rasa kekeluargaan diantara anggota keluarga, tempat berlindung dan menyimpan barang berharga, dan terkadang menjadi lambang social seseorang.
Melalui Surat edaran Kementrian Agama dalam situasi pandemic ini, menjadikan fungsi rumah semakin luas perannya yaitu sebagai tempat peribadatan. Fenomena ini sejalan dengan Firman Allah Subhanahu Wata’ala : Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, “Ambillah beberapa rumah di Mesir untuk (tempat tinggal) kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat ibadah dan laksanakanlah salat serta gembirakanlah orang-orang mukmin.”” (Yunus:87, Terjemah versi Kementerian Agama). Perintan Tuhan tersebut juga sejalan dengan perintan lainnya tentang urgensi Pendidikan dalam keluarga, sebagaimana yang termaktub dalam Surat Attahrim : Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (at-Tahriim:6, terjemah versi Kementerian Agama).
Dengan menempatkan sebagai tempat peribadatan, rumah tersebut telah menjadi tempat strategis untuk menanamkan nilai-nilai aqidah dan keimanan. Keimanan merupakan fundasi untuk menentukan tingkat kekokohan keberagamaan seseorang. Menghadirkan keimanan di rumah tentu akan menyuburkan kekuatan batiniyah seluruh anggota keluarga. Pembiasaan keimanan tersebut dapat dimulai dari hal yang kecil sederhana, semenjak bangun tidur hingga tidur kembali. Kurikulum pembiasaan akan menjadi terpola dan membentuk perilaku anggota keluarga serta memberikan pengaruh yang besar pada kehidupan nyata, sejak saat anak-anak hingga dewasa. Sebagai tempat peribadatan, rumah akan terdesain sebagai tempat mengaktualisasikan keimanan mereka itu dalam kehidupan sehari hari. Melalui pembiasaan sholat lima waktu berjamaah, membaca do’a menjelang buka puasa bersama, membaca doa menjelang sahur bersama, tadarus alquran bersama, tarawih berjamaah, menjadikan rumah memiliki dimensi ilahiyah yang luhur dan memberikan daya spiritual tinggi. Secara otomatis, proses transformasi pendidikan agama Islam di rumah telah terwujud secara sistamtis dan kontinyu. Dengan demikian anggota keluarga akan masuk pada atmosfir pendalaman dan akjutualisasi ilmu agama secara sinergis. Kehadiran agama bukan sekedar sebagi ilmu namun telah menjadi benteng yang kokoh yang dapat menghalau beragam anomali dan patologi social.

Internalissi dan Aktualitasi
Menempatkan rumah sebagai tempat peribadatan, seluruh anggota keluarga dapat menginternaslisasikan nilai-nilai kebaikan, yang menjadi intisari pesan akhlak. Keberadaan rumah yang full ubudiyah akan semakin turut memperkuat diri sebagai lembaga Pendidikan informal yang mampu membentuk pendidikan moral secara lebih dini dan tanpa rekayasa. Nilai-nilai akhlak seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggungjawab, berbakti pada orang tua, membantu pekerjaan di rumah dan nilai-nilai baik lainnya akan dibiasakan dengan begitu indah. Kondisi kekinian yang sangat mengkhawatirkan terkait dengan pergaulan bebas di kalangan anak dan remaja, dapat diminimalisir dengan sentuhan peribadatan di rumah. Seluruh aktivitas peribadatan di rumah tentu akan mengurangi intensitas anak dan rema terlibat pada pergaulan pada kelompok-kelompok yang tidak produktif. Di sinilah, kehadiran orang tua sebagai imam sekaligus model bagi anak-anaknya akan turut berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Potret rumah sebagai tempat ibadah tentu akan memberikan rasa Ketentraman hati bagi para penghuninya, paling tidak akan terjadi budaya ingat kepada Allah (dzikrullah). Dengan modal dzikrullah yang memperkuat hubungan dengan Allah (hablu Min Allah) akan menyadarkan hati dan pikiran anggota keluarga untuk ingat kepada sesama anggota masyarakat sekitar , dengan memperkuat solidaritas dan rasa kemanusiaan (hablu minannas. Rumah tangga yang dihuni oleh orang tua dan anak-anak yang hidup rukun dengan kurikulum peribadatan yang sistematis, tentu akan memperoleh ketenangan jiwa bagi para penghuninya. Ketentraman dan kebahagiaan dalam suatu rumah tangga memang sangat diidam-idamkan, meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mewujudkannya. Keluarga tentram dan bahagia menciptakan suasana yang menyejukkan bagi anak-anaknya. Perkembangan jiwa para penghuninya yang semakin menjadi sehat dapat tumbuh menjadi indicator pertumbuhan kesehatan jasmani dan rohani secara lebih positif dan produktif. Memfungsikan rumah sebagai tempat beribadah (laksana masjid atau musholla) maka suasana di dalam rumah akan menjadi semakin sejuk, sehingga kebahagiaan secara lahir dan batin dapat diraih. Dengan begitu predikat keluarga sakinah mawaddah warahmah dapat segera terwujudkan. Sudah mejadi obsesi secara umum bahwa Keluarga sakinah merupakan potret keluarga ideal yang diimpikan setiap muslim. Amin. Wallahu A’lam.
Muhlisin, Ketua PC LP Maarif NU Kabupaten Pekalongan dan Dosen IAIN Pekalongan
Artikel ini dimuat pada www.suaramerdeka.com. Pada tanggal 2 Mei 2020