Refleksi 90 Tahun LP. Ma’arif NU Berbasis Analisis SWOT

Perjalanan yang sangat panjang. Betapa tidak ? Sembilan puluh tahun Lembaga Pendidikan Ma’arif NU telah melayani umat di bidang pendidikan. Bagi NU, pendidikan merupakan salah satu pilar perjuangan penting dalam menyiapkan kaderisasi secara massif terhadap keberlasungan generasi NU di Indonesia, bahkan di dunia. Satuan pendidikan Ma’arif yang tersebar di pelosok negeri ini menjadi saksi sejarah tentang proses doktrinasi faham ahlussunnah Waljama’ah AnNnhdliyah hingga mengakar di tengah pergumulan ideologi transnasional. Diakui atau tidak, Lembaga Pendidikan Ma’arif merupakan penjaga gawang dan garda terdepan dalam menghalau berbagai serangan ideologi pada generasi NU sejak dini.

Core bussines LP Ma’arif NU yang focus pada pengelolaan pendidikan dasar dan menengah, menempati posisi strategis dalam membetuk karakter Aswaja secara terstruktrur dan berkelanjutan. Tentu saja, dalam perjalanan pengabdiannya terdapat kekurangan dan kelebihan yang telah didarmabaktikan oleh LP. Ma’arif NU. Di usia menuju satu abad ini, tentu kita perlu melakukan refleksi secara elegan melalui analisis SWOT. Akan sangat adil, bila kita mencoba memetakan kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) LP Maarif NU di masa sekarang hingga masa depan. Tanpa menafikan Masa lalu, justru kita harus menyongsong masa depan jauh lebih produkit, ketimbang mengungkap masa lalu yang terkadang melahirkan romantisme dan penyesalan. Tentu kami akan membahasnya secara sekilas dan tidak terlalu komprehensif, dengan harapan dapat dijadikan bahan diskusi lanjutan, sehingga paparan ini akan mendapatkan kritik dari para pegiat LP.Ma’arif  secara konstruktif.

Kekuatan
Sebagai bagian dari keluarga besar NU, tentu salah satu kekuatan LP Maarif terletak pada besarnya jumlah satuan pendidikan dan warganya. Analisis terhadap unsur kelebihan yang dimiliki oleh NU inilah yang tidak didapatkan pada ormas lainnya. Hingga saat ini, terdapat tidak kurang dari 160an satuan pendidikan di lingkungan NU Kabupaten Pekalongan, terutama jalur pendidikan formal hingga, baik yang dikelola oleh jama’ah (warga NU) maupun jamiyyah (organisasi). Belum lagi satuan pendidikan non formal, yang jumlahnya tentu jauh lebih banyak lagi. Kedua bentuk satuan pendidikan tersebut, meskipun belum mampu terkoordinasi secara modern, ternyata semunya menyatu dalam kekuatan ideologis untuk sama-sama mengibarkan dan mengokohkan semangat pendidikan yang berhaluan ahlussunnah waljamaah Annahdliyah. Satuan pendidikan yang berdiri di lingkungan NU pada umumnya merupakan inisiatif perorangan ataupun kelompok tertentu di lingkungan NU yang ingin mengambil peran dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Para penggagas dan pendiri biasanya menggunakan nama dan lambang organisasi sebagai wujud kebanggaanmnya sebagai warga NU, meskipun satuan pendidikannya tidak menggunakan Badan Hukum NU. Salah satu yang menjadi sumber kekuatannya terdapat pada semangat dan nawaitu Jihad lahir batin yang tidak bisa diukur dengan materi.

Kelemahan
Dalam ranah ini, setiap orang pasti mampu mengidentikasinya. Mencari kelemahan organisasi tentu pekerjaan yang sangat mudah, karena di dalamnya ada proses menilai dan mengukur belum berdayanya organisasi. Apalagi kalau menelisik kelemahan dengan kaca mata standar nasional pendidikan. Kali ini kami akan mencoba memetakan beberapa kelamahan lembaga pendidikan yang berada di Maarif NU, dalam konteks yang paling elementer. Pertama, Variasi dan kondisi satuan pendidikan Ma’arif berbeda-beda. Ada yang sudah maju dan eksis, ada yang belum maju tetapi eksis, dan ada yang tidak maju dan tidak eksis. Kedua, Kondisi guru dan tenaga kependidikan yang sangat heterogen kompetensinya. Ketiga, pola manajemen pendidikan yang juga beragam, ada yang sudah adaptif dengan teknologi, ada yang masih tradisional. Manajemen leadershipnya juga masih mengandalkan figur utama sebagai panutan dan ikon, belum mampu menyuguhkan kehandalan sistemnya. Figur penting, namun harus didukung dengan tata kelola yang sistemtis. Keempat, supporting pembiayaan masih terbatas. Pendirian satuan pendidikan Ma’arif pada umumnya mengandalkan niat jihad, yang dalam bahasa lainnya sering bermodalkan Nekad. Imbasnya, system pembiayaan dalam memenuhi standar pendidikan minimal, belum terpenuhi secara primer. Yang paling menonjol adalah minimnya penghargaan (baca: Honor) yang diterima oleh para Guru dan tenaga kependidikan yang ada.

Peluang
Dalam ilmu manajemen, unsur peluang biasanya dibuat pada saat awal membangun bisnis dan industri. Fakta kekinian menunjukkan pada kita, pendidikan (apapun jenisnya) sudah masuk pada ranah industrialisasi pendidikan. Hal ini sangat beralasan karena pendidikan juga didirikan berdasarkan adanya peluang atau kesempatan untuk turut mencerdaskan bangsa melalui pengembangan potensi sumber daya manusia. Bermodalkan kekuatan yang dimiliki keluarga besar Nahdliyin, sangat memungkinkan satuan pendidikan Ma’arif NU berpotensi untuk mampu bertahan, lebih produktif lagi dan tentunya diterima di masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Apabila mampu mengkristalisasi seluruh potensi yang ada, Satuan Pendidikan di lingkungan Maa’arif NU berpeluang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat NU dan di luar NU untuk menjadi destinasi studi bagi putra-putrinya. Di tengah isu ideologi transnasional, tentu Satuan Pendidikan Ma’arif akan menjadi pilihan bagi masyarakat untuk menyiapkaan generasi Indonesia yang berwawasan kebangsaan secara utuh. Satuan pendidikan Ma’arif akan dikenal sebagai penghasil generasi islam moderat, generasi pecinta dan setia NKRI dan sebutan lain yang mengarah pada anti-radikalisme.

Ancaman
Analisis terhadap unsur ancaman sangat penting karena menentukan apakah satuan pendidikan Ma’arif dapat bertahan atau tidak di masa depan. Beberapa hal yang termasuk unsur ancaman misalnya semakin banyaknya jumlah satuan pendidikan di luar NU sebagai pesaing, ketersediaan sumber daya yang dimiliki satuan pendidikan Ma’arif yang belum maksimal, kesetiaan warga NU mendaftarkan putra putinya pada satuan pendidikan Ma’arif , dan lain sebagainya. Membuat daftar ancaman di internal satuan pendidikan M’aarif untuk jangka pendek maupun jangka panjang menjadi sebuah keharusan yang harus dilakukan oleh para pengelolanya. Mengingat kompetisi pendidikan yang lebih berbasis pada kualitas dan akuntabilitas, merupakan fenomena yang tidak bisa dinafikan dalam industry pendidikan. Dalam konteks ini, Ancaman bisa dikatakan akan selalu ada dan terus menggerus eksistensi satuan pendidikan Ma’arif. Begitu pengeloalanya lengah, maka ancaman akan menghadang dan dapat menggerus potensi yang ada.

Itulah sekelumit analisis SWOT yang dapat kita petakan secara sederhana. Analisis ini berperan sebagai instrumen yang bermanfaat dalam aktivitas analisis strategis berikutnya. Dengan demikian satuan pendidikan Ma’arif menjadi lebih memahami kekuatannya dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkannya. Satuan Pendidikan Ma’arif juga dapat memotret suatu peluang, mempertahankan peluang serta mampu menciptakan peluang baru dengan segala turunannya. Dengan analisis tersebut, para pengelola satuan pendidikan Ma’arif tersadarkan tentang kelemahannya agar berusaha mencari solusi untuk mengurangi kelemahannya, tentu akan sulit untuk menghilangkannya. Dari sinilah, Para pengurus satuan pendidikan Ma’arif NU akan mengetahui potensi ancaman serta mau berusaha mencari solusi untuk menghindari ancaman tersebut. Kuncinya, Satuan Pendidikan di lingkungan LP Ma’arif NU, wajib berbenah diri secara istiqomah agar tetap menjadi yang terdepan dalam rangka menghasilkan lulusan yang berkarakter Ahlussunnah Waljama’ah Annahdliyah, berkompetensi unggul dan mampu berkompetisi dalam berbagai level.

Akhirul Kalam, Dirgahayu LP Ma’arif NU. Semoga Jihad Tarbiyah ini selalu mendapatkan ridla dan kebarakahan dari Allah Swt. Amin. Wallahu a’lamu bisshawab