Sambutan Ketua PP. LP.Ma’arif NU Pada Harlah ke 90 Tahun 2019

MENUJU INDONESIA UNGGUL, LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF NU MENYIAPKAN GENERASI EMAS NU TAHUN 2026

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadlirot Allah SWT, karena hingga hari kita masih bisa berkhidmat di dunia pendidikan melalui Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU. Sholawat serta salam kita sampaikan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, nabi terakhir yang menjadi inspirasi utama kita dalam mencetak dan mendidik umat manusia.

Hadirin yang saya hormati, banyak hal yang positif yang menandai kiprah LP Ma’arif NU dalam lima tahun terakhir. Sebagai lembaga resmi PBNU untuk menangani satuan pendidikan di lingkungan warga nahdliyyin, LP Ma’arif NU memiliki tanggung jawab besar untuk mengembalikan kejayaan NU dalam bidang pendidikan sebagaimana dilakukan tokoh-tokoh NU sejak kelahirannya pada 19 September 1929.
Kejayaan pendidikan NU ditandai lahirnya tokoh-tokoh dari NU yang memiliki kemampuan cukup tinggi yang dapat disumbangkan untuk pembangunan bangsa dan negara. LP Ma’arif NU berperan penting dalam menghantarkan mereka pada suatu gerbang kapabilitas dan kredibilitas yang membentuk kesadaran tentang kiprah NU untuk bangsa.

 

Sederet tokoh besar yang terlahir dari rahim LP Ma’arif NU. Kemampuan mereka tidak hanya membawa nama NU dalam khazanah keilmuan dunia, tapi juga menjadikan bendera Merah Putih sebagai lambang negara kesatuan berkibar di dunia internasional. Peran-peran mereka dalam konteks sosial-politik bangsa mencatatkan bahwa NU sebagai lumbung intelektual berkelas internasional. Dalam God Needs No Defense yang diterbitkan Yale Univesity (2012), Gus Dur menyebutkan: “kehebatan peradaban Islam klasik –yang memasukkan universalisme yang manusiawi dan kosmopolitan—sebagian besar berasal dari kematangan intelektual dan spiritual yang tumbuh dari perpaduan pengaruh Arab, Yunani, Yahudi, Kristen, dan Persia. Itulah sebabnya saya menangis ketika melihat komentar Ibn Rusyd tentang Etika Nicomachian yagn dilestarikan dan ditampilkan dengan penuh kasih, selama kunjungan beberapa tahun lalu ke Fes, Maroko. Karena jika bukan karena Aristoteles dan risalahnya yang hebat, saya mungkin akan jadi seorang fundamelis Muslim sendiri.”

Dengan kata lain, Gus Dur ingin menjelaskan bahwa ideologi ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) yang dibangun para tokoh NU sejak berdirinya pada tahun 1926 berasal universalisme dan kosmopolitanisme yang bersumber dari peradaban Arab, Yunani, dan Nusantara. Keberhasilan para tokoh NU menerjemahkan Aswaja sebagai ideologi dunia tidak terlepas dari intelektualisme dan spiritualisme yang dibangun melalui satuan pendidikan yang bernaung di bawah LP Ma’arif NU. Ideologi inilah yang dalam perkembangannya mempengaruhi dalam penyusunan dasar-dasar negara. Itulah sebabnya, sejumlah tokoh NU tidak hanya berperan besar dalam pendirian Indonesia, tetapi yang lebih penting adalah terlibat dalam penyusunan Pancasila dan UUD 1945 yang mampu menyatukan anak-anak bangsa dalam satu kesatuan negara yang kemudian disebut NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Dalam posisinya sebagai lembaga resmi NU untuk menangani pendidikan, LP Ma’arif NU berperan besar dalam membentuk intelektualisme dan spiritualisme warga nahdlyyin. Membawahi ribuan satuan pendidikan yang tersebar di pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke, nyatanya LP Ma’arif NU mampu membangunkan kesadaran warga nahdliyyin untuk ambil bagian dalam peran-peran strategis dalam pembangunan bangsa dan negara. Memproduksi intelektualisme dan spiritualisme dijalankan oleh LP Ma’arif NU hingga memasuki awal kepemimpinan Orde Baru. Tokoh-tokoh NU yang dihasilkan dari rahim LP Ma’arif NU memberikan sumbangsih cukup untuk pembangunan bangsa dan negara.

Namun, memasuki era 1970-an, peran-peran tersebut lambat laun dikurangi. Bahkan dalam perjalanannya LP Ma’arif NU mengalami pengerdilan sampai ke titik nadir. Kondisi ini pula berdampak pada mental warga nahdliyyin berada pada titik paling rendah. Tokoh-tokoh LP Ma’arif NU berinisiatif untuk melepas satuan pendidikannya dikelola oleh perorangan atau yayasan. Sejumlah tokoh NU bahkan mengalami trauma ketika melihat atau mendengar peristiwa demi peristiwa pilu yang dialami warga NU lainnya. Represifitas politik tidak hanya membuat LP Ma’arif NU kehilangan aset dan momentum, tetapi yang lebih besar lepasnya satu generasi (loss generation) dalam konteks keindonesiaan. Setidaknya dalam lima tahun terakhir, LP Ma’arif NU telah melakukan sejumlah kegiatan yang memberikan gairah baru.

Pertama, menghidupkan satuan pendidikan. Sejauh ini LP Ma’arif NU telah menyuntikkan energi positif pada setiap pengelola satua pendidikan NU untuk segera menata dan bangkit kembali untuk meraih hari esok yang lebih ceria.
Kedua, sekolah internasional. Dalam lima tahun terakhir LP Ma’arif NU mampu mendorong pada guru dan pengelola pendidikan untuk membuka kelas-kelas internasional. Dalam lima tahun terakhir kelas ini telah tumbuh beberapa sekolah dan madrasah bertaraf internasional.
Perkembangan positif ini terjadi di sejumlah kota besar seperti Surabaya, Semarang, dan lainnya, yang disambut positif oleh masyarakat. Sekolah dan madrasah tidak pernah sepi dari peminat dan tidak kalah menarik dibanding sekolah/madrasah negeri.
Ketiga, penguatan karakter dan ideologi Aswaja. LP Ma’arif NU dalam lima tahun terakhir telah berperan penting dalam penguatan karakter dan penanaman ideologi. Hal ini dilakukan melalui gerakan pramuka baik tingkat penggalang maupun wirakarya. Perkemahan Pramuka Ma’arif NU yang dilakukan 2 tahun sekali berperan dalam penanaman ideologi Aswaja. Dalam kemah ini ribuan siswa hadir menjadi peserta dan penggiat pramuka yang setia pada Aswa dan Pancasila.
Keempat, pusat pelatihan. LP Ma’arif NU merencanakan dalam satu tahun ini untuk membangun pusat pelatihan (LP Ma’arif NU Training Center). Pusat pelatihan direncakan akan dibangun di Jakarta sebagai tempat pelatihan para guru dan tenaga kependidikan Ma’arif NU.

Semua kegiatan LP Ma’arif NU muaranya satu, pembentukan generasi unggul sebagaimana cita-cita pemerintah atau dalam konteks LP Ma’arif NU disebut generasi emas. Penciptaan generasi emas ini ditargetkan pada saat NU berulang ke-100 tahun pada tahun 2026. Sejumlah langkah yang dilakukan LP Ma’arif NU yakin bahwa kita sedang menuai hasil di tahun 2026, lahirnya generasi emas. Akhirnya, selamat ulang tahun ke-90 LP Ma’arif NU. Mari rayakan hari ulang tahun LP Ma’arif NU dengan karya-karya nyata dan program-program unggulan menuju generasi emas 2026.
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamit Thoriq, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 19 September 2019
Ketua Umum,

Drs. H. Z. ARIFIN JUNAEDI, MBA