SATUAN PENDIDIKAN MA’ARIF NU MENYANTUNI 453 ANAK YATIM

Pekalongan, Dalam rangka memperingati 10 Muharram, Seluruh Satuan Pendidikan di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Pekalongan memberikan santunan kepada anak yatim dan yatim piatu. Pemberian santunan yang berlangsung di masing-masing satuan pendidikan dibalut dengan berbagai macam kegiatan, seperti dobersama, wirid dan tahlil, istighosah, tausiyah, dan dzikir. Bersadarkan data yang masuk ke PC LP Maarif NU Kabupaten Pekalongan, dari 28 satuan pendidikan yang melaporkannya, telah berhasil mengumpulkan bantuan santuanan sebesar Rp. 104.790.000 (seratus empat juta tujuh ratus Sembilan puluh ribu rupiah). Kegiatan yang dilaksankan secara serentak pada tanggal 10 Muharram yang bertepatan dengan tanggal 10 September tersebut telah berhasil menyantuni 453 anak yatim dan yatim piatu. Selain uang, para pimpinan satuan pendidikan juga telah mengumpulkan beragam bantuan, berupa beras, alat tulis, buku bacaan, buku tulis, mukena, baju, mie instan, susu kental manis dan seragam sekolah. Bantuan berasal dari donasi para guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua dan masyarakat sekitar sekolah dan madrasah.

Secara terpisah, Ketua LP Maarif NU Kabupaten Pekalongan, Muhlisin, menegaskan bahwa, jika semua satuan Pendidikan di lingkungan LP Maarif NU mau melaporkan semunya, tentu jumlahnya akan sangat banyak, dengan jumlah yang disantuni juga lebih banyak lagi. “Ini yang melaporkan baru 28 satuan pendidikan, bila semuanya melaporkannya tentu uang yang terkumpul akan dapat diinformasikan lebih banyak lagi. Begitu juga dengan penerimanya, tentu jumlahnya lebih banyak lagi”, tandasnya. Ketua juga mengemukakan, “agar di tahun yang akan dating, para kepala sekolah/ madrasah dapat melaporkannya secara keseluruhan dimana informasi ini menjadi penting, karena juga dapat dijadikan sebagai sarana tranparansi public agar masyarakat merasa puas dengan program yang telah dijalanakan oleh satuan pendidikan” tambahnya.
Saat ditanya tentang manfaat kegiatan santunanan anak yatim, Ketua Maarif berpendapat bahwa kegiatan yang digelar untuk memuliyakan anak yatim tersebut memiliki pesan mulia, dalam rangka membiasakan tradisi kedermawanan sekaligus menumbuhkan rasa kemanusiaan antar sesama. Menyantuni anak yatim dan yatim piatu tentu memberikan dampak positif bagi berbagai pihak. “ jika ditinjau dari aspek psikologis, menyantuni anak yatim ternyata dapat menumbuhkan sifat peduli antar sesama. Sifat peduli ini muncul ketika kita merasa bahwa kita lebih beruntung dari orang lain. Seseorang yang terlihat lebih beruntung ketimbang anak yatim akan selalu merendah diri jika menyantuni mereka. Karena rasa bahagia yang selama ini ia rasakan belum tentu dirasakan oleh anak yatim.” Tegasnya.
Selain itu, menyantuni anak yatim dapat melunakkan hati yang keras. Dalam arti, jika kita berperan sebagai figur orang tua untuk anak yatim, tanpa disadari sifat orang tua terhadap anak pun muncul dengan sendirinya pada diri kita seperti mendidik, mengasihi, menjaga, dan juga menyayangi. Sifat-sifat tersebut ketika dicurahkan kepada anak yatim maka akan dapat menghilangkan penyakit-penyakit hati seperti dengki, iri hati, kikir, pemarah dan sebagainya. Kebaikan lain yang kita dapatkan ketika menyantuni anak yatim adalah semakin meningkatnya keimanan dan ketaqwaan seseorang. Inilah alasan mengapa kita selalu diperintahkan untuk menyantuni anak yatim. Betapa banyak kebaikan yang dijanjikan Allah untuk kita di hari kemudian dan juga ketenangan dalam hidup yang luar biasa kita rasakan. Masih banyak lagi pahala yang dijanjikan Allah jika kita senantiasa menyantuni mereka dengan baik. Tinggal bagaimana kita berusaha untuk terbiasa peduli kepada mereka agar semakin sering kita menyantuni anak yatim maka semakin sering pula Allah memberikan pahala, kebaikan, kebahagiaan, serta kenyamanan hidup di setiap aktifitas-aktifitas yang kita lakukan di dunia.

Di akhir perbincangan, Ketua Maarif juga berpesan kepada para anak yatim dan yatim piatu agar tetap semangat dan tidak pernah menyerah dalam menggapai cita-cita. karena, status sebagai anak yatim dan yatim piatu , bukanlah suatu faktor untuk menghambat cita-cita yang mulia untuk menyongsong masa depan yang lebih gemilang. Banyak contoh orang sukses yang berasal dari keluarga anak yatim. Nabi Muhammad Saw., juga ditaqdirkan sebagai anak yatim. (ibnu salym)