LP. MA’ARIF NU- HAFECS KEMBANGKAN HOT BERBASIS CTL

Pekalongan. Bertempat di Geudng PCNU Kab Pekalongan, belum lama ini telah berlangsung joint program antara PC.LP. Ma’arif NU Kabupaten Pekalongan dengan Yayasan HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services). Sebuah lembaga yang konsen pafa upaya percepatan transformasi pendidikan Indonesia melalui 3 pilar yaitu; Perbaikan dan pengembangan metode pengajaran dan pembelajaran di kelas, Mengembangkan metode pembelajaran para guru, serta Pengembangan kurikulum inovatif. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai rintisan membangun kerjasam antara kedua lembaga tersebut. Pertemuan yang dikemal dalam bentuk diskusi Pendidikan “School Leader Gathering” serta “Hafecs Class” tersebut diikuti oleh Pengurus Maarif, Perwakilan Kepala MI, MTs,SMP, MA, dan di lingkungan LP Maarif NU Kabupaten Pekalongan. Hadir sebagai narasumber, Zulfikar Alimuddin, B.Eng., M.M, Direktur Global Islamic Boarding School, salah seorang Doctoral Candidate of ITB with special expertise in Action Learning; Knowledge Management; Coaching and Teaching.

Diskusi yang mengangkat Tema tentang “Keterkaitan Higher Order Thinking dengan Contextual Learning dalam Society 5.0”, mendapatkan respon sangat positif dari seluruh peserta. Dalam kesempatan tersebut, Zulfikar mengangkat 3 issue penting. Pertama, Bagaimana Meningkatkan kesadaran guru dan praktisi pendidikan akan pentingnya metode pengajaran dan pembelajaran yang efektif. Kedua, Bagaimana Menstimulasi guru dan praktisi pendidikan untuk berinovasi dalam mengembangkan metode pengajaran dan pembelajaran yang efektif. Ketiga, Membantu guru dan praktisi pendidikan untuk menerapkan metode pengajaran dan pembelajaran yang efektif ke dalam kelas. Di akhir sesi, Zulfikar juga menandaskan bahwa HAFECS memiliki berbagai event yang terkait dengan dunia pendidikan dan dapat diikuti oleh pengajar profesional dan umum untuk meningkatkan ilmu bagaimana cara mengajar dan trend terbaru dunia pendidikan saat ini.

Sementara itu, Ketua LP Maarif Kabupaten Pekalongan menandaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya membangkitkan semangat guru dalam menjalankan profesinya, agar pekerjaan mendidik dan mengajar bukan sekedar rutinitas yang berulang-ulang. Baginya, Mendidik dan mengajar merupakan profesi yang membutuhkan up date dan up grade dalam berbagai hal, seperti merodologi pembelajaran, manajemen kelas, support teknologi informasi dan kebaruan muatan kurikulum yang kontektual. Bagi guru, perubahan pola perilaku peserta didik memang selalu menarik untuk dibahas. Menghadaapi generasi milenial, paling tidak seorang guru diharapkan mampu menerapkan teknik pembelanjaran yang tepat, agar guru lebih berhasil dalam memberikan pelajaran kepada generasi milennials. Apapun teknik pembelajaran yang diterapkan, paling tidak memenuhi kriteria Relevance. Para Guru harus menyadari bahwa Generasi Milennials adalah generasi yang menghargai sebuah informasi karena ‘relevan’ dengan kehidupan mereka. Maka di sini peran guru adalah ‘menyortir’ materi – materi yang ada di buku, mana yang relevan dan akan banyak digunakan dalam kehidupan peserta didik dan mana yang tidak. Ciri menonjol dari peserta didik milenial adalah Rasionale. Tidak seperti generasi sebelumnya yang dididik dengan pola otoriter, para generasi milenial ini banyak yang dibesarkan dengan pola – pola demokratis oleh orang tua atau lingkungan mereka. Sehingga, generasi milenial ini akan cenderung respek kalau tugas atau kebijakan yang diterapkan guru mengutamakan pendekatan rasional. Yang tidak kalah pentingnya, generasi milenial juga lebih senang berinteraksi dalam kondisi belajar yang kurang formal atau lebih santai. Menyesuaikan dengan kondisi milenial juga bukan berarti selalu guru yang menyesuaikan, namun peserta didiknya juga.

Di akhir sesi, dilanjutkan dengan diskusi dan Tanya jawab. Saat sesi ini berlangsung, masing2 peserta menyampaikan testimoninya tentang pengalaman mengajar di masing-masing satuan pendidikan. Pada intinya, semua guru menyampaikan tentang terjadinya pergeseran orientasi pembelajaran dari dulu hingga sekarang. Untuk itu para guru diharapkan arif dan bijaksana dalam mensikapi kondisi generasi peserta didik milenial dengan pemanfatan teknolpgi informasi dalam praktek pembelajaran, namun tetap memperhatikan kearifan local. Setelah diskusi berakhir dilanjutkan sesi foto bersama dan tukar menukar cindera mata. (ibnu Salym).